ARAHRAKYAT– Bencana yang melanda Kabupaten Agam sejak 27 November 2025 menyisakan persoalan mendasar yang hingga kini belum sepenuhnya tuntas. Hingga Jumat (23/1), kebutuhan air bersih masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi warga di sejumlah wilayah terdampak, termasuk Nagari Maninjau, Sungai Batang, serta kawasan pengungsian di Palembayan.
Korban terdampak bencana, Rudi Yudistira menyebut, krisis air bersih paling berat terjadi pada fase awal bencana. Selama sekitar dua minggu pertama, warga berada dalam kondisi darurat air.
“Awal bencana itu sangat berat. Dua minggu pertama warga susah air. Ada yang sampai membeli air hanya untuk mandi,” ujar Rudi.
Dalam kondisi terdesak, sebagian warga bahkan terpaksa memanfaatkan aliran air sawah untuk kebutuhan mandi dan mencuci. “Di Bancah, termasuk saya dan keluarga, sempat pakai air sawah. Kondisi itu berlangsung sekitar dua minggu,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, bantuan mulai berdatangan. Distribusi air bersih kini dilakukan secara rutin oleh TNI, Polri, BPBD, PMI, serta relawan. Bak dan tong penampungan air berkapasitas 1.000 hingga 5.000 liter ditempatkan di berbagai jorong, terutama di sekitar posko pengungsian dan pusat permukiman penduduk.
“Sekarang bantuan sudah banyak masuk, kebutuhan air sudah mulai terpenuhi. Tapi faktanya, warga masih kekurangan,” ungkap Rudi.
Selain distribusi air, jajaran Polri juga membangun sumur bor sebagai sumber air bersih. Namun sejauh ini, baru dua titik yang terlihat aktif, yakni di Mako Polsek Tanjungtaya dan di kawasan Pasar Rabaa Sungaibatang.
Upaya tambahan juga dilakukan oleh TNI melalui program isi ulang air minum gratis. Babinsa Sungaibatang, Novianto Budi, menyampaikan warga dapat mengisi ulang air minum di Kantor Wali Nagari Sungaibatang dengan membawa galon atau wadah sendiri.
“Gratis. Tinggal bawa galon, cerek, atau botol,” ujarnya.
Persoalan serupa juga terjadi di wilayah lain di Kabupaten Agam. Di Jorong Kayupasak, Nagari Salarehaia, Kecamatan Palembayan, ratusan pengungsi masih bertahan dengan ketersediaan air bersih yang terbatas.
Wali Jorong Kayupasak, Nofril Harman, menyebut saat ini hanya satu sumur bor dan satu fasilitas Pamsimas yang berfungsi. Meski dibantu puluhan toren dan suplai tangki air, kebutuhan ratusan jiwa di kawasan tersebut belum sepenuhnya terpenuhi.
“Untuk jangka panjang, satu sumur bor dan Pamsimas ini belum mampu menopang kebutuhan air warga. Harus ada tambahan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelumnya terdapat tujuh titik sumur bor yang direncanakan dibangun di Kayupasak. Namun, enam di antaranya gagal karena struktur tanah berbatu.
Sementara ini, kebutuhan air warga masih dapat dipenuhi secara terbatas berkat suplai dari BPBD, PDAM, Polri, serta bantuan relawan. Namun jika suplai tersebut terhenti, persoalan air bersih berpotensi kembali menjadi krisis.
Meski warga tidak dipungut biaya untuk mengakses air bersih, keterbatasan sumber dan ketergantungan pada bantuan darurat menunjukkan perlunya penanganan jangka panjang yang lebih serius dari Pemerintah Kabupaten Agam.
Warga berharap Pemkab Agam melalui Dinas PUPR, BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Perumahan, dan Dinas Sosial tidak hanya fokus pada satu wilayah, tetapi melihat persoalan air bersih secara menyeluruh di seluruh kawasan terdampak bencana.
Akui Akses Air Bersih masih Terbatas
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, Rahmad Lasmono, mengakui bahwa persoalan air bersih pascabencana dipicu oleh rusaknya banyak jaringan air bersih, terutama fasilitas Pamsimas.
“Seperti di daerah Palembayan dan Tanjungraya, banyak aliran Pamsimas yang terputus dan masyarakat kehilangan sumber air bersih,” kata Rahmad saat dihubungi.
Untuk penanganan sementara, BPBD Agam menyalurkan toren air bersih ke wilayah terdampak. Toren tersebut diisi setiap hari menggunakan truk tangki.
“Toren yang telah kami berikan itu diisi setiap hari oleh tim menggunakan truk tangki. Sehingga warga tetap mendapatkan air bersih,” ujarnya.
Namun Rahmad menegaskan, skema distribusi air menggunakan tangki tidak bisa dilakukan dalam jangka panjang. “Ini solusi sementara. Untuk jangka panjang, kita rencanakan pembangunan Pamsimas agar masyarakat bisa kembali mendapatkan akses air bersih di setiap rumah seperti sebelumnya,” katanya.
Selain Pamsimas, pemerintah juga membangun sumur bor di sejumlah titik yang dinilai memiliki potensi sumber air. Hingga kini, baru sekitar tiga sumur bor yang berfungsi, masing-masing satu di lokasi pengungsian Kayupasak dan dua di Kecamatan Tanjungraya.
Rahmad mengakui, kebutuhan ideal jumlah sumur bor di seluruh wilayah terdampak bencana di Kabupaten Agam hingga kini belum dihitung secara pasti. “Yang dibangun masih di titik-titik krusial,” ujarnya.
Di luar upaya pemerintah, bantuan sumur bor juga difasilitasi berbagai pihak, seperti Polri, NU, HKI, serta inisiatif mandiri warga bersama perantau. Namun keterbatasan jumlah serta kondisi geografis yang berbatu membuat persoalan air bersih masih menjadi tantangan besar pascabencana di Kabupaten Agam.

