ARAHRAKYAT– Meski cuaca mulai cerah dan banjir bandang susulan berangsur mereda di Jorong Pasa Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, ancaman galodo belum sepenuhnya hilang. Pantauan udara BPBD Agam mengungkap masih adanya material batu besar yang labil di hulu Batang Muaro Pisang, yang sewaktu-waktu berpotensi terbawa arus dan mengancam permukiman warga.
Pemantauan menggunakan pesawat nirawak (drone) tersebut difokuskan pada kawasan hulu di sekitar Kelok 42. Hasilnya cukup mengkhawatirkan, tumpukan batu besar sisa terjangan arus pada Kamis (1/1) lalu masih tersangkut di jalur air. Material ini ibarat “bom waktu” yang siap meluncur ke hilir jika dipicu oleh peningkatan debit sungai.
BPBD Agam menkonfirmasi, stabilitas material di bagian hulu saat ini sangat rawan. Jika wilayah tersebut kembali diguyur hujan dengan intensitas tinggi, potensi pergerakan material menuju pemukiman warga di Jorong Pasa Maninjau menjadi sangat besar.
“Material di hulu masih sangat labil. Saat hujan dengan intensitas tinggi, ancaman galodo susulan tetap terbuka,” tulis laporan resmi BPBD Agam melalui kanal Diskominfo, Minggu (4/1).
Normalisasi sungai hulu ke hilir butuh keilmuan
Menanggapi situasi kritis tersebut, Bupati Agam, Benni Warlis, menginstruksikan agar penanggulangan bencana dilakukan secara komprehensif. Ia menegaskan bahwa pembersihan di area hilir tidak akan cukup jika sumber masalah di bagian hulu tidak segera ditangani secara teknis.
“Kita tidak bisa hanya fokus pada penyelesaian di hilir. Pemetaan di hulu harus akurat guna menentukan langkah teknis yang tepat. Tanpa penanganan dari sumbernya, dampak galodo di masa depan bisa jauh lebih destruktif,” tegas Benni.
Bupati memaparkan, saturasi air pada tanah di perbukitan hulu sudah mencapai titik jenuh akibat hujan berkepanjangan. Kondisi ini membuat lereng menjadi sangat sensitif, bahkan getaran kecil sekalipun berpotensi memicu longsoran baru.
“Dalam kondisi tertentu, meskipun tidak ada hujan di bawah, galodo tetap bisa terjadi karena cadangan air di hulu sudah melampaui kapasitas,” jelasnya.
Kekhawatiran kian memuncak menyusul terjadinya perubahan alur sungai Batang Muaro Pisang. Pergeseran aliran air ini menyebabkan area ancaman meluas hingga ke titik-titik pemukiman yang sebelumnya dianggap aman.
“Situasi saat ini bisa dikatakan mencekam. Sungai telah berpindah jalur, yang berarti semakin banyak rumah penduduk yang kini berada di zona bahaya,” kata Benni.
Sebagai langkah jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Agam telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi Sumatera Barat untuk melakukan kajian ilmiah dan teknis terkait normalisasi sungai dari hulu hingga hilir.
Dapatkan berita pilihan dan terupdate dengan mengikuti kami di Facebook dan saluran WhatsApp!Â
- Facebook: klik disini
- WhatsApp: klik disini

