Ketakutan saya beberapa bulan lalu sekarang menjadi sebuah kenyataan, “Saya mulai biasa saja melihat angka-angka kematian yang terus naik. Laporan penularan konsisten meningkat, bahkan mencatatkan rekor baru. Awalnya semua kaget dan panik, kemudian berangsur-angsur jadi biasa lagi, sekalipun kondisi sebenarnya masih sangat mengkhawatirkan, “Pada akhirnya kita akan terbiasa dengan apa saja”, kalau kata Camus, termasuk pada Covid-19 hari ini. Per-hari tulisan ini dibuat, berdasarkan data yang ada di web KPC PEN sudah 1.191.990 terkonfirmasi positif, penambahan kasus perhari di kisaran 8000-an, dan meninggal 32.381; tentu itu belum termasuk 2 juta testing yang—menurut Wakil Ketua Komite Penangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan—belum dilaporkan pemerintah ke publik. Penularan yang cenderung konsisten meningkat dan tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah merupakan tanda bahaya masih mengintai.

Lebih bahaya lagi karena sejak awal respon pemerintah kelewat dan bahkan denial terhadap ancaman wabah. Keputusan yang diambil bukan didasarkan pada mitigasi ancaman wabah yang banyak direkomendasikan oleh epidemiolog. Bahkan epidemiolog yang kritis terhadap langkah-langkah pemerintah malah didiskreditkan oleh buzzer. Pemerintah memang tidak menjadikan upaya penghentian wabah mematikan tersebut sebagai tujuan terpenting dari setiap keputusan publik yang mereka ambil.

Satu tahun sudah sejak virus ini menjajaki negara ini, tapi pemerintah tetap konsisten bergerak dari satu kesalahan ke kesalahan lain; sampai hari ini saja kita tahu persoalan krusial macam sistem entri data kita saja sangat buruk—misal pada tanggal 10 Februari 2021 hanya dalam selisih kurang lebih 15-20 menitan, data-data yang berada di laman web KPC PEN berubah sampai tiga kali dengan selisih angka yang cukup jauh dan berbeda dengan data yang di keluarkan oleh Kemenkes—bisa dibayangkan kebijakan macam apa yang akan dikeluarkan dengan data yang kacau seperti itu? Apakah menjadi aneh ketika public distrust meningkat terhadap pemerintah?. Implikasinya, bahkan ketika ada kebijakan yang mungkin itu baik sekalipun, rakyat sudah tidak lagi percaya. Bahkan yang terburuk rakyat sudah tidak lagi percaya terhadap pandemi itu sendiri.

***

Bagaimana jika kebanyakan rakyat menjadi percaya dengan teori konspirasi? Tentu kondisi demikian akan lebih menakutkan lagi dan wabah tidak akan mengalami senjakalanya. Dalam kondisi normal prediiksi Bloomberg yang menghitung krisis karena Covid-19 di Indonesia baru akan berakhir 10 tahun lagi[1] berdasarkan dosis vaksin per-hari 60.443 dengan asumsi yang terinfeksi masih sekitar satu jutaan—belum termasuk perhitungan angka penularan harian yang masih terus meningkat dan orang-orang yang juga percaya dengan teori konspirasi dan anti vaksin—semoga prediksi itu keliru dan dosis vaksin dapat segera ditingkatkan berdasarkan target. Tapi apa benar rakyat kita itu anti vaksin?.

Menurut survei The Economist, lebih dari 90% orang Indonesia mau untuk di vaksin,[2]. Anggaplah itu kabar baik terlepas apakah survei yang dilakukan bias perkotaan atau tidak. Seminggu lalu saya mendengar cerita seorang kawan ketika ia baru balik dari kampungnya, saat berada di sana dia malah di ‘ceng-cengin’ oleh warga sekitar hanya karena mengenakan masker, karena mereka menganggap disana tidak ada Covid-19, atau beberapa kawan-kawan (katakan bagian dari gerakan progresif) di sosial media yang memposting bahwa pandemi hari ini tidak lebih dari bagian rencana kapitalisme dalam menyelesaikan krisis (semacam virus yang sengaja dicptakan), bahkan juga ada yang ngotot sampai leher berurat mengadvokasi teori konspirasi sambil menyatakan: Covid-19  disebabkan 5G, program Bill Gates memasang microchip, vaksin bisa membuat mandul, dll.

Apakah Covid-19 sungguh nyata? Saya akan menjawab dengan tidak kalah berurat: IYA! Tapi apakah ia merupakan sesuatu yang alamiah dan kebetulan/ditakdirkan muncul di Pasar Ikan Hunan di Cina dan menginvasi secara global. Jelas itu bukan hanya persoalan penyebaran virus biasa secara alamiah, atau serta-merta cobaan dari yang maha kuasa, melainkan persoalan struktural. Eksploitasi berlebih dan gila-gilaan oleh kapital yang pada titik tertentu merusak metabolisme alam dan membuat wabah jadi ancaman bagi manusia—deforestasi, industri peternakan, pertambangan, dan agrobisnis—habitat-habitat asli dari patogen yang selama jutaan tahun berada di hutan yang sebenarnya sangat sulit dijangkau oleh manusia, karena proses akumulasi yang dilakukan oleh kapital telah membuat patogen-patogen tersebut semakin dekat dengan manusia.

Patogen menurut William McNeill adalah micro-parasit; dengan ukuran yang sangat kecil dan hanya dapat hidup dengan cara berparasit pada inang: tumbuhan, hewan, atau manusia. Hidup tanpa memberi manfaat pada inangnya, justru pada titik tertentu ia menginfeksi dan merusak metabolisme tubuh inang, hingga berujung kematian. [3] Pertanian komoditas berfungsi sebagai pendorong maupun penghubung bagi patogen yang berasal dari berbagai tempat untuk bermigrasi dari reservoir paling terpencil hingga ke pusat populasi dalam skala internasional.

Industri peternakan dan agrobisnis telah merusak hukum alami dari alam yang selama ini bekerja secara gratis mengatasi wabah dan segala potensinya. Menumbuhkan monokultur genetika—hewan pangan dan tanaman dengan genom yang nyaris sama—menghilangkan imun penularan, dalam populasi yang lebih beraneka ragam imun itu berfungsi memperlambat proses penyebaran virus. [4] Persoalan pandemi yang muncul hari ini merupakan dampak dari mode produksi kapitalisme yang kompetitif dan akumulatif, merupakan konsekuensi dari kontradiksi internal yang ia ciptakan, tetapi itu bukan suatu rencana sadar nan konspiratif seperti yang dituduhkan.

Kita harus melihat persoalan Covid-19 bukan sebagai insiden yang terisolasi dan mengabaikan sebab-sebab struktural—produksi pangan dan profitabilitas perusahaan multinasional—yang mendorong berbagai patogen yang terpinggirkan tersebut untuk menjadi rockstar yang jauh lebih terkenal dari Mick Jagger. Covid-19 masih permulaan karena jika kita tetap mempertahankan corak produksi ini, masih ada pandemi-pandemi lain yang akan mengancam juga krisis iklim yang semakin nyata jadi ancaman.

***

Vaksin sudah ditemukan, harusnya pandemi ini akan segera berakhir. Itu yang kita semua harapkan. Memang tidak ada vaksin atau intervensi dari medis, public health yang efektifitasnya 100% selalu ada resiko relatif. Vaksin merupakan hal yang penting (necessary condition but not sufficient condition) dalam krisis ketika pandemi tapi itu bukan satu-satunya; harus juga adanya pendataan yang memadai dan jelas; dokter serta vaksinator yang tersedia; dan memastikan akses vaksin gratis untuk semua—supaya segera tercipta herd immunity.

Masalah distribusi di lapangan tentu masih menjadi penghambat, seperti tahap pertama yang di khususkan untuk tenaga kesehatan yang seharusnya datanya sudah jelas—siapa yang bisa terima siapa yang tidak—tapi ternyata tidak, datanya berantakan sekali, sistemnya tidak siap; seperti, seharusnya daftar di website, lalu mendapat pemberitahuan melalui SMS tapi itu hanya di awal-awal saja, hari ini tidak lagi. Melihat kondisi real di lapangan dengan sistem yang kacau, tentu target vaksinasi 1-2 juta orang per-hari yang disampaikan terlihat seperti lelucon.

Inkompetensi itu seolah memberikan sinyal supaya swasta ikut campur dan memberi jalan pintas dengan vaksinasi mandiri—konsekuensinya itu akan mengkorup vaksin gratis karena supply terbatas. Harusnya vaksinasi dengan prinsip seluas-luasnya, karena vaksin itu public goods tidak bisa untuk dikomersialisasikan, apalagi di saat kondisi pandemi dimana vaksinasi tersebut harus terkontrol dengan baik agar bisa memaksimalkan efektifitasnya dan menciptakan herd immunity—dari awal, wabah ini memang merupakan persoalan struktural—hal seperti ini yang seharusnya di highlight oleh kelompok progresif bukan lagi pada perdebatan trivial antara pro vaksin atau anti vaksin.

Semua merek vaksin untuk menghadapi Covid-19 ini adalah vaksin yang tidak mengandung virus yang hidup. Vaksin tidak mungkin menyebabkan PCR jadi positif, vaksin butuh waktu untuk bekerja—harus dua kali suntikan—kekebalan optimal baru timbul setelah 28 hari pasca suntikan yang kedua, sementara dari suntikan pertama ke yang kedua selisihnya 14 hari. Artinya pada masa penantian itu, apabila seseorang terpapar masih bisa terinfeksi; bisa juga sebelum disuntik yang pertama seseorang juga telah terpapar, jadi jika ada yang terinfeksi pasca divaksin sifatnya hanya coincident. Durasi proteksi vaksin belum diketahui karena harus melakukan pengukuran ulang setelah enam bulan pasca penyuntikan yang kedua. Kalau secara keilmuan proteksinya dapat bertahan 1-2 tahun—tentu dengan harapan saat itu pandemi sudah selesai.  

Semenakutkan itu kah efek samping dari vaksin? Mungkin iya mungkin juga tidak sama sekali. Tentu ia memiliki kelemahan terkhusus yang sekarang ada di Indonesia (sinovac). Sinovac dikembangan dengan teknologi inactivated yang merupakan teknlogi konvensional yang kuno, yang sudah digunakan selama puluhan tahun. Jadi kekurangannya adalah efikasi dan efektifitasnya cenderung rendah, tapi ia juga memiliki keuntungan yaitu safety profile yang sangat baik. Kalau yang dibahas adalah keamanan tentu vaksin inactivated bisa lebih moderat, mengingat ia memiliki rekam jejak sangat panjang. Perbandingan data secara uji klinis efek samping pada sinovac hanya ‘ringan dan sedang’ sebesar 0,1-1% (sangat rendah). Dalam hal vaksin emang ada prinsip, semakin tinggi efikasinya maka reaktogenesitasnya lebih tinggi (high risk high return).

***

Persoalan tidak percaya terhadap sains, meyakini teori konspirasi, itu tentu memiliki sejarah yang tidak singkat, meskipun tidak juga terlalu lama. Menurut Joseph Uscinski, “teori konspirasi merupakan alat bagi yang lemah untuk menyerang sekaligus bertahan melawan yang kuat”. Godaan bagaimana menempuh jalan yang singkat untuk memahami berbagai macam persoalan tanpa harus mencari, mempelajari sesuatu secara komprehensif. Untuk memanipulasi pikiran sendiri terhadap kondisi real yang berbeda agar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh apa yang diyakini. Berkelindan dengan kepercayaan terhadap teori konspirasi, yang juga punya implikasi terhadap ketidakpercayaan terhadap solusi yang ditawarkan oleh sains—vaksin—dalam menghadapi ancaman-ancaman ekologis macam pandemi hari ini.

Narasi anti vaksin bukan sesuatu yang baru, itu kembali lagi ke permukaan dikala pandemi seperti saat ini. Salah satu narasi yang terkenal tentu “vaksin menyebabkan autisme” narasi yang didasarkan pada penelitian yang curang. Artikel yang muncul di jurnal medis bergengsi, The Lancet, pada tahun 1998 dengan Dr. Andrew Wakefield[5] sebagai penulis utama yang melaporkan, “Onset of behavioral symptoms was associated, by the parents, with measles, mumps, and rubella vaccination in eight of the 12 children…” telah ditarik pada tahun 2010 oleh editor The Lancet. Mereka menyatakan[6]: “Following the judgment of the UK General Medical Council’s Fitness to Practice Panel on Jan 28, 2010, it has become clear that several elements of the 1998 paper by Wakefield et al are incorrect…” . Selain itu, Dr. Wakefield telah kehilangan izin praktik kedokterannya di Inggris.

Kebohongan “vaksin menyebabkan autisme” hanya didasarkan pada 12 anak, tetapi untuk menyangkal kebohongan ini memerlukan memerlukan penelitian yang sekarang melibatkan jutaan anak secara harfiah—sains memang dapat menyangkal kepalsuan. Sekarang ada beberapa tinjauan ilmiah komprehensif yang menunjukan bahwa vaksin tidak menyebabkan autisme, dengan menggabungkan data kesehatan masyarakat dan studi ilmiah di AS dan negara lain[7]. Vaksin tidak menyebabkan autisme, malah mencegah serangkaian penyakit yang menghancurkan bahkan mematikan. Kebohongan telah disangkal tapi ia sudah telanjur menyebar, omong kosong “vaksin menyebabkan autisme” terus bertahan bahkan kebohongan tersebut dikembangkan menjadi lebih mengerikan.

Steven Pinker dengan sangat terang mengatakan bahwa, “Vaccines are one of the best things our sorry species has ever accomplished”. Sejak 1924, vaksinasi telah mencegah 103 juta kasus polio, campak, rubella, gondongan, hepatitis A, dan pertussis[8]. Bahkan ini telah memberi rasa aman yang palsu bagi beberapa orang. Seperti yang dicatat oleh Sam Harris, “the only reason anti-vaxxers are in a position to even entertain the possibility of not immunizing their children is that there is still so much herd immunity. These people cannot reasonably hope that everyone will stop using vaccines — that is, unless they hope to return to a world where people get paralyzed by polio because they shook another person’s hand.”

***

Dalam kondisi seperti apapun sifat dasar kapitalisme tetap akan memaksimalkan akumulasi. Krisis silih berganti tapi ia selalu memanfaatkannya menjadi peluang—krisis menjadi suatu keharusan tetapi ia bangkit lagi dan lagi. Kapitalisme itu macam hydra berkepala banyak, menyisihkan, menginternalisasi, dan mengatur berbagai lapisan hubungan sosial.[9] Tidak ada yang namanya “negara akan menjadi sosialis karena terpaksa” macam ramalan Martin Suryajaya. Bahkan diantara pilihan yang tersedia antara menghadapi masalah global (pandemi) dengan solidaritas global atau tetap dengan cara-cara lama: business as usual—yang dalam kondisi tertentu itu benar-benar menjadi barbarismeyang tetap dijadikan solusi adalah pilihan kedua; monopoli vaksin oleh perusahan farmasi transnasional, insentif pajak besar-besaran terhadap korporasi bahkan bailout.

Bukan memperkeruh keadaan dengan ikut dalam polemik antara pro vaksin atau anti vaksin, Karena persoalan vaksin hari ini sudah menjadi apriori, erakan progresif harus dapat memastikan supaya negara bertindak dengan benar dan menjadikan rakyatnya sebagai prioritas, sembari membangun kesadaran kolektif di tengah-tengah rakyat. Kita harus segera kembali normal untuk kembali lagi melakukan kerja-kerja pengorganisiran, dan vaksin menjadi prasyarat mutlak akan itu.

Wabah ini semakin membuat kita yakin bahwa ada sesuatu yang salah dengan sistem ini dan sudah menjadi keharusan bahwa ia harus digantikan. Covid-19 hanya peringatan awal, supaya kita meninggalkan cara-cara lama (moda produksi kapitalisme) dan menemukan alternatif karena jalan penuh kehancuran yang akan senantiasa membayangi kita. Sebelum kita akan benar-benar berada dalam kapal yang sama, kapal yang dengan mantap menuju kehancuran total—di mana kelas sosial atau privilege apapun sudah tidak lagi ada artinya. Dan akhirnya kita memahami apa yang dimaksud oleh Margaret Thatcher sebagai “There is no alternative!” dalam makna yang sepenuhnya berbeda.

***

Esa Bahning

_________________

Referensi

Sumber gambar: https://www.ucsf.edu/magazine/covid-vaccine

[1] https://www.straitstimes.com/world/pandemic-could-end-in-7-years-at-current-pace-of-vaccination diakses pada 2/15/2021

[2] https://www.economist.com/briefing/2021/02/13/vaccine-hesitancy-is-putting-progress-against-covid-19-at-risk diakses pada 2/15/2021

[3] Arif Novianto, Pengantar: Pandemi dan Kabar Buruk Barbarisme Pasar (Panic-Slavoj Zizek), Penerbit Independen, Yogyakarta, 2020.

[4] Rob Wallace, Matinya Epideimiolog (Ekspansi Modal dan Asal-Usul Covid-19), Penerbit Independen, Yogyakarta, 2020

[5] Wakefield AJ, Murch SH, Anthony A, Linnell J, Casson DM, Malik M, Berelowitz M, Dhillon AP, Thomson MA, Harvey P, Valentine A. (1998). RETRACTED: Ileal-lymphoid-nodular hyperplasia, non-specific colitis, and pervasive developmental disorder in children. Lancet, 351, 637-641. Quote on p. 637

[6] Retraction—Ileal-lymphoid-nodular hyperplasia, non-specific colitis, and pervasive developmental disorder in children. The Lancet, Volume 375, Issue 9713, 2010, Pages 445. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0140673697110960?via%3Dihub diakses pada 2/16/2021 Jam 07-12 AM

[7] Law, S. (2011). You can prove a negative. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/believing-bull/201109/you-can-prove-negative diakses pada 2/16/2021 Jam 07-12 AM

[8] https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4175560/ diakses pada 2/20/2021 Jam 07-12 AM

[9] Lee B dan Red Rover, Night-Vision: Illuminating War and Class on The Neo-Colonial Terrain, 1993