Dengan Pandemi yang ada saat ini paling tidak kita dapat melihat perkembangan model produksi yang berkaitan dengan kebijakan Negara. Paling tidak antagonisme Kapitalisme dan Sosialisme melahirkan antithesis yang kategorisasinya melahirkan kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada program kekuasaan dalam satu Negara. Ini penting kita lihat untuk dapat melihat fenomena china sebagai Negara yang dapat menancapkan pengaruh ekonomi politik dalam skala global.

Kapitalisme yang menjadi skema ekonomi politik terlembaga yang banyak di pakai oleh Negara-negara di dunia, seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Perancis dan lainnnya. Sosialisme Demokrat yang berkembang di Negara regional skandinavia seperti Jerman, Denmark, Swedia, Norwegia, Islandia, dan Finlandia. Sosialisme yang dipakai oleh Negara seperti Kuba, Korea utara, Nepal, laos, srilanka, Mongolia dan beberapa Negara lain. yang menarik adalah fenomena China yang menjadikan Sosialisme menjadi berorientasi Pasar dengan prinsip Sosialisme dalam pengaturan bisnisnya dan dalam kongres ke 14 di terminology menjadi Ekonomi Pasar Sosialis (The Socialism Market Economy). Krisis Kapitalisme yang terjadi sejak 2008 mengguncang ekonomi global hingga pra pandemic covid-19. Yang dalam penyelamatannya selain mekanisme moneter Bank sentral Amerika Serikat (FEDs) ternyata China juga menjadi salah satu penyelamat Kapital dengan menjadi penyuplai hampir di seluruh komponen (global Warehouse). Yang perlu dicatat bahwa krisis ekonomi di tahun 2020 adalah konsekuensi kegagalan krisis 2008 yang membuat akumulasi kapital secara global tidak menyentuh angka yang menggembirakan bagi kapitalis. Kutukan resesi dua puluh tahunan menjadikan sedikit terpola, bahkan dapat kita lihat bagaimana kebutuhan kapitalisme mengatasi over produksinya. Gangguan dalam satu tahun ini telah membuat krisis semakin dalam, paling tidak dalam satu tahun ini telah terlihat Peningkatan PHK, penurunan Investasi dan meningkatnya jumlah perusahaan kecil yang bangkrut [1].

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah image.png

 

Likuidasi Kemanusiaan

Kemanusiaan menjadi morfem yang populer untuk membangun imajinasi dan moral di masa pandemi. Melakukan kapitalisasi atas kemanusiaan telah berhasil menjadikan hampir seluruh pemikiran rakyat global bersatu untuk memenangkan keadaan atas penyebaran virus yang sampai hari ini telah menginfeksi 145 juta orang yang mengakibatkan terbunuhnya 3 juta orang, dan sampai saat ini masih ada 18 juta orang yang masih harus bertarung untuk dapat bertahan dari serangan wabah ini [2]. Kemanusiaan muncul menjadi narasi yang terus dipakai untuk dapat mengembalikan kondisi ke bentuk mobilitas yang normal. Tetapi ini tidak menunjukkan bahwa semua kebijakan dan program untuk mengembalikan “keadaan Normal” tanpa membuat makna kemanusiaan itu terang dan benar-benar untuk kemakmuran manusia.

Tren politik yang terus berkembang hari ini paling tidak menimbulkan KeGRan – Gede Rasa dari para pemimpin politik dunia,  yang menyebabkan adanya otoritarian yang secara tidak sadar muncul dalam setiap atraksi politik mereka dan juga di Indonesia. Seakan kepemimpinan yang menggunakan kemauan yang kuat maka mereka dapat menciptakan kenyataan yang lebih baik, namun yang terjadi sebaliknya. Dampaknya adalah banyak gagasan dan ide alternatif terbungkam.

Kondisi saat ini membuat informasi dan pengetahuan atas wabah ini dimonopoli oleh kekuasaan global. Tidak ada kebebasan berbicara atas nama covid-19, segala bentuk kritik atas kebijakan dan program penanggulangan wabah dikendalikan oleh kepentingan kapital. Dan segala informasi dan pengetahuan diluar kanal kapital adalah informasi dan berita bohong. Kendali ini tidak lagi menggunakan cara-cara beragam, mulai yang kontemporer dengan menguasai platform digital untuk informasi wabah, sampai bentuk represi fisik dengan penangkapan, bahkan ketika mencapai konflik politik tidak jarang ada penahanan dan pembunuhan [3] [4]. Semua usaha untuk membangun alternatif dari masyarakat kapital telah dicegah sehingga semua upaya atas perlawanan dari masyarakat untuk cita-cita masyarakat baru dibungkam.

Pandemic Covid-19 sebenarnya dapat dilihat sebagai katalis konsolidasi dan persatuan. Problemnya yang berhasil berkonsolidasi dan bersatu atas nama moral kesehatan telah di bajak oleh kepentingan ekonomi kapital. Hampir semua Negara bersama-sama berkonsolidasi untuk penyelamatan keselamatan ekonomi negaranya. Lembaga global menjadi menguat posisinya seperti WHO, World Bank dan beberapa lembaga ekonomi global lainnya menjadi semakin menonjol. Konsolidasi juga terjadi di beberapa gerakan seperti kelompok sosialis dan pro demokrasi di beberapa Negara secara regional atau internasional.

Tahun ini semua berkonsolidasi dan mencoba membangun persatuan untuk masyarakat baru diluar kapitalisme. Masyarakat kapitalisme di tengah wabah memperlihatkan dominasi kapitalisme dalam waktu singkat telah membiarkan 3 juta orang hidup tanpa akses perawatan kesehatan, dan banyak orang yang harus kehilangan pekerjaan dan tidak mendapat akses untuk bisa bertahan dalam memenuhi kebutuhan hariannya. Ini menambah keyakinan kita bahwa kapitalisme tidak pernah benar-benar berpihak pada kemanusiaan. Berapa kematian diakibatkan oleh kegagalan kapitalisme terutama pertumbuhan global yang disponsori oleh amerika Serikat. Jika kita bandingkan covid-19 sejak gelombang panjang krisis paling tidak kita mulai dari 1920an, sampai 2008 jutaan manusia mengalami kematian akibat perang, kelaparan atau konflik sosial. Satu tahun pandemic mewujudkan secara terbuka kapitalisme tidak mampu menerangi manusia.

Sedang jika kita memperhatikan secara detail, apakah yang terjadi kepada para pemilik modal dengan adanya pandemic hari ini ? mereka secara menonjol ternyata mengalami peningkatan keuntungan dengan adanya pandemic hari ini. 10 orang paling banyak harta di dunia, mengalami peningkatan kekayaan paling tidak 540 miliar dollar sejak maret 2020, mereka seperti Jeff Bezos, Elon Musk, Bernard Arnault, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Larry Ellison, Warren Buffet, Zhong Shanshan, Larry Page dan Mukesh Ambani[5].

Kekayaan dari data yang sangat fluktuatif ini menunjukkan bahwa kapitalisme dalam krisis ditahun 2020 tetap memberikan keuntungan pada mereka yang memiliki akses pada industri yang berkembang di era pandemic. Jika keuntungan itu diberikan kepada pekerja dan rakyat dunia, paling tidak maka vaksin Covid-19 untuk seluruh dunia dapat diatasi. Kekayaan kaum modal bertambah dapat dilihat juga sebagai kemiskinan yang bertambah pula disisi lain, ini adalah ketidaksetaraan di dalam sistem kapitalisme. Sementara untuk menyelamatkan bisnis lain mereka lepas tangan dan memberikan tanggung jawab kepada Negara-negara untuk ikut andil mengurus wabah yang paling banyak mengorbankan kelas pekerja di dunia.

Gambar 2: Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dari 1923-2008

Ini juga didorong oleh menguatnya tren politik konservatif yang membuat banyak Negara mengalami peningkatan penyebaran wabah. Seperti  di turki penguatan kelompok konservatif membuat covid-19 cepat menyebar di turki akibat konferensi partai AK Turki pimpinan erdogan, mobilisasi kampanye Donald Trump dan di Indonesia sendiri sempat terjadi penyebaran di kelompok komunitas keagamaan yang tidak percaya atas ancaman covid-19.

Kenyataan ini membuat kita kembali teringat bagaimana sebutan kemanusiaan itu tergantung penguasa. Seperti rakyat Somalia yang dahulu bekerja dengan membawa kapal penangkap ikan itumenjadi bajak laut karena ikan yang jadi sumber protein diambil Perusahaan perikanan eropa. Ini adalah bagaimana imperialismee yang jelas bekerja dan Covid-19 menjadi trigger mempermainkan kemanusiaan di dalam dinamika demokrasi hari ini. Imperialisme hanya akan menambah kesenjangan dengan mengambil lebih banyak untuk dirinya sendiri dengan kedudukan mereka dalam sistem ini.

Kapitalisme yang butuh negara

Bicara tentang pemulihan yang secara humanisme tak baik maka segenap rakyat dunia harus sedia untuk saling membantu dengan membebankan biaya kepada orang agar tetap hidup sehat juga terhindar dari kemiskinan serta kesenjangan. Gagasan ini terus dipakai untuk menjadi internalisasi sosial. Hal ini tidak dapat dipaksakan masuk dalam konsensus sosial tanpa peran serta Negara untuk menginternalisasinya.

Negara diharapkan dapat menjadi satuan tugas yang secara lugas melakukan perlindungan atas resiko prospek kerja dan standar hidup manusia. Maka dengan melebarnya kesenjangan dalam kinerja ekonomi antar Negara dan sektor produksi pemerintah diharapkan oleh kapital untuk menggunakan seluruh sumber dayang untuk mempercepat vaksinasi, mendorong transformasi dalam investasi digital dan industri hijau, mempertahankan dukungan pendapatan dengan sokongan dana, hingga subsidi kepada perusahaan hingga ekonomi dapat menjadi normal kembali. Konsekuensi dari tanggung jawab tersebut adalah Negara harus menambah utang untuk dapat memenuhi kebutuhan pembiayaan. Negara menjadi aktor penting dalam mendorong pemulihan akumulasi kapital secara global [6].

Untuk melakukan peningkatan pengeluaran, maka perlu Bank sentral dorong menciptakan state obligation. Ini untuk menjawab masalah pembiayaan adalah untuk APBN dan program Vaksinasi yang menjadi titik kunci untuk dapat mendorong Herd Immunity. Malah kemudian dari mana uang itu muncul dan dapat memberikan kucuran dana yang begitu berlimpah kepada Negara-negara, terutama utang yang meningkat selama kurun waktu satu tahun belakangan. Secara teknis Bank sentral dari masing-masing Negara mencetak uang dengan membeli Government Bond atau menambah likuidasi bank dengan menurunkan suku bunga acuan Bank Sentral agar mendorong permintaan (demand) meningkat. Di Indonesia sudah terjadi dengan lahirnya Perpu No 1 tahun 2020 tentang kebijakan keuangan Negara dan stabilitas sistem keuangan untuk penanganan covid-19.

Perlu kita ketahui, mekanisme hutang dengan jangka waktu tertentu adalah pemaksaan alih tanggung jawab kepada generasi masa depan. Kaum muda tidak saja diwariskan pada ketidaksetaraan, kemiskinan, perubahan iklim yang ekstrim tapi juga tanggung jawab pelunasan utang Negara dengan hasil kerja anak muda di masa depan. Satu tahun ini memperlihatkan bagaimana anak muda mulai muncul dalam mobilisasi kritik terhadap pemerintah di Negara mereka masing-masing. Ini adalah keadaan baru yang harus dirawat.

Logika pasar telah memperlihatkan krisis yang terpantik akibat pembatasan sosial sehingga menimbulkan faktor pendukung krisis melalui fenomena distraction economy yang telah berjalan seiring cina menjadi kekuatan produksi manufaktur dunia dan surga investasi akibat mumpuninya SDM yang lebih murah dibandingkan dengan SDM di eropa. Hampir semua ekonomi mengalami gangguan karena pembatasan mobilitas sosial, sehingga Peralatan kesehatan menjadi komoditas yang laku kemudian diikuti oleh perindustrian berbasis Makanan dan digital. Dengan membludaknya kebutuhan vaksin Banyak Negara kekurangan vaksin sehingga bisnis vaksin menjadi sangat potensial untuk dapat menjaga angka pertumbuhan ekonomi tetap stabil dan menciptakan ruang baru untuk beberapa inisiatif ekonomi yang dapat menyerap modal tanpa resiko yang cukup besar. Dalam hal ini modal dalam wajah imperialisme mencari makanan baru untuk mengisi perutnya yang serakah.

Dalam hal ini sebenarnya kita dapat melihat bagaimana perpindahan barang menjadi kunci utama kapital dapat berkembang. Wajah imperialisme di Terusan Suez, ketika kapal kargo raksasa dari perusahaan Evergreen memblokade kanal tersebut sehingga harga komoditas terutama minyak menjadi mengikat dengan drastis. Problem transportasi untuk penyelamatan krisis menjadi menonjol. Sehingga proposal china dalam Belt and road initiative menjadi relevan. Kemudian proyek pembangunan Kanal di Istanbul turki untuk memotong jalur perdagangan ke Rusia, pembangunan Kanal di Swiss, hingga perusahaan teknologi yang bermarkas di Silicon Valley, perusahaan seperti  amazon mencoba membangun proyek drone dan tesla moda transportasi listrik untuk mengatasi masalah transportasi. Eksploitasi kapital di bidang transportasi adalah wajah nyata bagaimana Imperialismee bekerja.

Demi menggenjot pemulihan, mendorong arus keluar masuk modal menjadi penting, salah satunya yang cukup signifikan memperkuat regional. Tiap Negara berkonsolidasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Di Asia Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), yang ditandatangani pada 15 November 2020 telah menjadi  salah satu pakta perdagangan dan investasi terbesar di dunia.Ini dapat memberikan dorongan yang signifikan untuk investasi langsung asing (FDI) di wilayah anggota. Walau kalau dilihat lagi, China, Australia, Jepang Korea Selatan  dan selandia baru sebagai Negara yang dapat dikatakan mapan sedang terjadi Hold Investasi.  Seperti halnya juga Turki dalam Kerja sama pembangunan kanal untuk kepentingan perdagangan yang berpihak ke rusia, karena jalur melalui ukraina, kaukasus, mediterania dan atlantik akan sangat menonjol dalam mempengaruhi kualitas dan kuantitas pertumbuhan di wilayah tersebut.

Wabah COVID-19 ini telah menyebabkan aliran modal mengalami apa yang belum pernah terjadi sebelumnya, penjualan portofolio oleh investor asing dengan skala dan kecepatan pelepasan portofolio melebihi empat kali lipat lebih besar dari selama krisis keuangan 2008[7]. Keadaan ini akan membuat banyak pembangunan dan target pertumbuhan mengalami stagnasi. Jikapun mengalami pertumbuhan ekonomi hanya berkembang di skala Negara atau pun regional. Ini membuat banyak Negara mengalami ketidakpastian pembiayaan untuk pembangunan sehingga menjadi konsekuensi yang logis bagaimana untuk menyelamatkan dirinya Negara dibutuhkan oleh kapitalisme dalam menanggulangi ancaman kebangkrutannya.

Gambar 3: Perkiraan arus keluar masuk investasi langsung sampai 2022[8]

Dalam keadaan ini dapat kita lihat bahwa Globalisasi bukan agenda untuk meningkatkan perdagangan dari konsumen ke produsen dalam skala global tapi memfasilitasi TNC/MNC yang kuat untuk menanamkan pengaruh dengan investasi, perjanjian perdagangan dan berbagai kebijakan multilateral atau bilateral untuk kerja sama ekonomi. Aturan perdagangan dalam globalisasi yang penuh dengan prasangka dan bahkan takhayul adalah konsekuensi pasar bebas sebagai tatanan sosial yang diikuti oleh hampir seluruh penduduk dunia dengan sadar atau tidak telah dibuat untuk dapat menghidupi para pemilik modal.

Apa yang Rakyat punya ?

Dengan situasi diatas rakyat dunia sekarang, gerakan mencapai titik untuk berefleksi terhadap yang dijalankan oleh rakyat secara independen menyelamatkan dirinya dan kolektif. Tradisi ini penting untuk dipelajari dalam memotong atau bahkan melawan kapitalisme di tiap tingkatan perjuangan. Gagasan untuk memperjuangkan kepemilikan sosial atas alat produksi sekarang juga semakin  relevan. Namun perlu dikerjakan dengan sabar pula untuk mencapai titik evolutif yang matang.

Berbagai model Perlawanan terus dilakukan akan tetapi tidak pula mencapai keadaan ketidaktaatan konstruktif. Sebuah ketidaktaatan untuk membangun kembali tatanan. Tradisi independensi menghadapi resiko dalam satu tahun belakangan seharusnya menambah kepercayaan diri bahwa gerakan sosialisme perlu masuk dan bergabung dengan serikat pekerja dan organisasi gerakan demokrasi yang ada untuk mengasah dan mempertajam kontradiksi dengan target yang lebih terukur dan sistematis. Penggunaan teknologi hari ini dapat kita lihat cukup membantu persatuan dari gerakan yang ada.

Di satu sisi kapitalisme menggunakan teknologi untuk mengakumulasi keuntungan. Maka tugas kita untuk mengambil kembali  tujuan teknologi untuk manusia. Dengan kepemilikan atas teknologi secara kolektif maka teknologi bukanlah Lawan. Karena sejatinya apa yang diciptakan oleh dinamika kapitalisme yang sekarang ini bukanlah hal yang secara membabi buta kita sebut barang haram. Karena sejatinya manfaat teknologi itu adalah dari  seberapa jauhnya kepemilikan teknologi dari kolektif manusia.

Gerakan perlu menjadi aktor pemecahan masalah sebagai lawan dari masalah dengan pembaruan agenda progresif. Kita sudah melihat komunitas mengatur diri sendiri untuk melalui krisis kesehatan ini. Situasi ini sungguh hal yang menakjubkan, kolektivitas dan solidaritas dengan prinsip kemanusiaan benar-bernar berjalan di antara mereka. Dalam model ini kita dapat melihat itu beroperasi dengan sedemikian rupa adalah karena ruang untuk demokrasi terbuka. Demokrasi terbuka ini penting dilakukan, terutama dalam membangun solidaritas dan kolektivitas perjuangan. Ditengah penggunaan teknologi yang massif, sebenarnya teknologi itu tidak menjamin adanya perlindungan privasi. Namun dalam satu tahun ini berbagai pengalaman itu menunjukkan kepada kita bahwa akan ada jalan keluar  dari kemampetan demokrasi ini adalah mendorong perjuangan politik untuk transparansi demokrasi dari kejahatan oligarki yang membatasi kebebasan berekspresi.

Beberapa gerakan mencoba mulai membangun consensus baru, seperti mendorong implementasi Universal Basic Income (UBI), ada yang mencari celah dengan ikut mendorong Green New Deal menjadi celah adar ada konsesi negosisasi baru dalam tatanan kapitalisme. Prinsip ekologi dalam aktivitas manusia di negosisasi ulang dan membuat ruang dalam mendorong demokratisasi paska kapitalisme dengan hidup di lintas batas kapital. Para pendukung mencari kesepakatan baru yang ramah lingkungan agar lebih sederhana dan sesuai tuntutan pandemic dan resesi ekonomi. Ada yang berkonsolidasi untuk membangun kekuatan politik internasional dengan pelopor Negara Venezuela pada bulan juni 2021. Asa akan terus ada dengan semangat dari masing-masing gerakan yang sedang menuju masyarakat baru paska kapitalisme dengan membangun persatuan dari tingkat terkecil sampai global.

Sosialisme bisa dikalahkan, tetapi kebenaran sosialisme membela manusia untuk kemakmuran dan kesejahteraan akan terus tegak. Satu tahun pandemic Covid-19 menunjukkan hanya solidaritas dan kolektivitas yang dapat membebaskan manusia dari krisis kesehatan. Sehingga masih ada harapan bagi kita untuk kembali memajukan gagasan ilmiah sosialisme sebagai model masyarakat yang jauh dari penindasan.

Referensi :

[1] https://thenextrecession.wordpress.com/2021/04/18/the-roaring-twenties-repeated/

[2] https://www.worldometers.info/coronavirus/

[3] https://reliefweb.int/sites/reliefweb.int/files/resources/ACLED_A-Year-of-COVID19_April2021-compressed.pdf

[4] https://www.crisisgroup.org/global/sb4-covid-19-and-conflict-seven-trends-watch

[5] https://www.oxfam.org/en/press-releases/mega-rich-recoup-covid-losses-record-time-yet-billions-will-live-poverty-least

[6] https://www.oecd.org/economic-outlook/

[7] https://www.oecd.org/investment/COVID19-and-global-kapital-flows-OECD-Report-G20.pdf

[8] https://www.unctad.org/sistem/files/official-document/wir2020_en.pdf