Gerakan lingkungan hidup semakin populer dan kerap dibicarakan banyak orang. Isu tentang kerusakan lingkungan bahkan tidak hanya menjadi perhatian aktivis lingkungan, tetapi mulai menjadi isu yang banyak dibicarakan oleh komunitas masyarakat luas. Salah satu contoh yang menarik perhatian, adalah pernyataan band pop asal London, Coldplay. Tahun 2019 mereka memutuskan untuk menunda tur album baru “Everyday Life” karena kekhawatiran atas dampak lingkungan yang ditimbulkan dari konser.

Di Eropa, seorang aktivis berusia 15 Tahun Greta Thunberg asal Swedia memulai gerakan ‘School Strike for Climate’ aksi yang diikuti ribuan Pelajar dan orang tua, telah menarik perhatian dunia. Seperti gerakan sosial lainnya, gerakan ekologis terus membesar seiring meningkatnya eskalasi isu dan pengorganisasian masyarakat. Pernyataan ini bersandar pada premis bahwa aksi gerakan sosial senantiasa akan berkembang ketika kehidupan manusia mengalami problematika yang ada di suatu peristiwa.

Populisme gerakan pro lingkungan lingkungan hidup pada kenyataan tidak pernah merubah apapun dalam kehidupan manusia modern. Sekali lagi, gagasan gerakan pro lingkungan yang hanya dipenuhi dengan jargon populis, justru telah mendekonstruksi gagasan tentang environmentalism justice, menetralisir dimensi radikal dari persoalan ekologi dan melupakan aspek historis dari eksploitasi alam yang menjadi biang perusakan lingkungan. Tentu, hal tersebut menegasikan pernyataan awal bahwa gerakan pro lingkungan hidup terdorong dengan adanya kesadaran materialis akan problematika kehidupan manusia. Rupanya, kesadaran tersebut hanyalah sebatas kampanye dan belum menjadi sebuah statement individu, apalagi kelompok. Mengingat, bahwa keseimbangan alam menuntut perubahan perilaku dan pembatasan kehidupan manusia secara radikal.

Pandangan antroposentrik selalu dikaitkan dengan hal ini, padahal “ekosentrisme” merupakan pengejawantahan dari perspektif manusia yang bersifat antroposentris. Bedanya di porsi orientasi untuk kelanjutan sistem ekologis yang jauh lebih besar dibanding pemenuhan dalam jangka pendek manusia. Namun, sistem ekologi tersebut ujung-ujungnya untuk mendukung keberlangsungan/kestabilan komponen abiotik yang menyokong komponen biotik (termasuk spesies kita). Cukup pelik, gerakan ekologi selalu terjebak dengan dikotomi antroposentrik atau ekosentrik. Gerakan ekologi kesulitan untuk menemukan satu benang merah dalam menentukan kepentingan bersama antara manusia dengan alam.

Konvergensi krisis ekologi, politik dan ekonomi yang mendalam di abad kedua puluh satu telah mendorong evaluasi ulang hubungan alam-manusia di lingkungan arus utama dan radikal.[1] Kemudian, tidak salah apabila kita menunjuk rasionalitas pencerahan dalam dualisme cartesian sebagai penguatan biner dalam filsafat borjuis yang telah mengalienasi manusia dari alam sebagai “keretakan metabolik”.[2] Dualisme cartesian telah mengukuhkan pandangan antroposentrik dan menjadikan alam sebagai objek eksploitasi manusia atas nama modernisasi. Horkheimer dan Adorno, melayangkan kritik atas rasionalitas modernisasi yang secara paralel sejalan dengan manipulasi dan eksploitasi alam.[3] Horkheimer dan Adorno berpendapat bahwa rasionalitas sebagai anugerah telah berubah menjadi monster yang menakutkan sehingga keniscayaan ketidakseimbangan alam semesta dimungkinkan terjadi justru karena perbuatan manusia.

Lalu dimana posisi Marxisme? Perhatian marxisme terhadap ekologi saat ini tidak hanya sebagai upaya untuk melengkapi karya Marx dan Engels, tetapi merupakan komponen fundamental dari kritik Marxis terhadap modal.[4]  Bagi Karl Marx relasi hubungan antara manusia dengan alam layaknya metabolisme. Karl Marx yang menempatkan manusia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alam dapat dilihat sebagai lompatan berfikir Marx (atas kritik pencerahan) dalam menempatkan manusia dan alam sebagai satu ontologi yang berketubuhan. Berikut tulisan Karl Marx  “Manusia hidup di alam dan ada dalam hubungan yang bergantung ini, alam adalah tubuhnya, maka manusia harus hidup berdampingan dengan alam apabila tidak menginginkan kepunahan ,karena manusia adalah bagian dari alam.”[5]

Karl Marx mengenal metabolisme dari Justus Von Liebig yang memakai istilah metabolisme untuk menjelaskan kritiknya atas pertanian Inggris saat itu. Sistem pertanian dengan metode penanamannya yang intensif demi meningkatkan hasil untuk pasar, yang menurut Liebig beroperasi sebagai sistem perampokan yang merusak vitalitas tanah. Tanah membutuhkan nutrisi khusus; nitrogen, fosfor, dan kalium untuk mempertahankannya kemampuan menghasilkan tanaman.

Pada masyarakat sebelumnya, tanaman yang kaya nutrisi didaur ulang kembali ke tanah sebagai pupuk setelah dikonsumsi. Tetapi konsentrasi tanah, depopulasi pedesaan, dan meningkatnya pembagian antara kota dan desa mengubah proses ini. Hasil tanaman dikirim dari pedesaan ke pasar yang jauh. Nutrisi tanah dipindahkan dari desa ke kota di mana mereka terakumulasi sebagai limbah dan berkontribusi pada pencemaran kota, bukannya dikembalikan ke tanah.

Marx menyadari bahwa kritik Liebig terhadap pertanian modern paralel dengan kritiknya sendiri terhadap ekonomi politik. Perspektif historis dan dialektisnya memungkinkannya untuk memahami bahwa “kesuburan bukanlah kualitas yang begitu alami seperti yang diperkirakan, tetapi terkait erat dengan hubungan sosial pada waktu itu.”5 Dengan demikian, Marx, melalui studinya tentang ilmu tanah, memperoleh pengetahuan tentang siklus nutrisi dan bagaimana tanah dapat kehilangan nutrisi penting.

Atas landasan pengetahuan ini, Marx memberikan kritik ekonomi terhadap pertanian modern dengan menjelaskan bagaimana celah metabolik dalam siklus nutrisi tanah terjadi karena adanya relasi produksi kapitalisme. Konsep metabolisme ini dipakai  dalam seluruh kritik Marx terhadap ekonomi politik dan merupakan bagian integral dari pemahamannya tentang pertukaran manusia dengan alam lainnya. Marx menggunakan metabolisme sosial untuk menjelaskan pertukaran dinamis yang kompleks antara manusia dan alam yang primer untuk keberlangsungan kehidupan manusia.[6]

Melalui Liebig, Marx menemukan celah metabolisme dari adanya relasi produksi dan pemisahan desa-kota yang antagonistik. Marx menyebutnya sebagai keteretakan metabolik. Keretakan metabolisme inilah yang menjadi sumbangsih besar Marxisme dalam lingkup ekologi politik.

Keretakan metabolik mengacu pada penaklukan metabolisme sosial yang teralienasi ini ke “mode kontrol metabolik sosial yang sangat tidak dapat dikendalikan”, yang pada gilirannya menghasilkan perpecahan metabolik (jamak), dimana siklus dan aliran ekologi diganggu atau bahkan dipecah, karena kapital berusaha untuk membengkokkan realitas material menjadi akumulasi tanpa henti dari substansi (nilai) yang tidak bersifat material[7]. Sederhananya, Karl Marx memandang bahwa aktivitas produktif sebagai kerja sosial adalah mediasi tingkat pertama dalam metabolisme manusia dengan alam. Dalam masyarakat kapitalis, kebutuhan ontologis ini diubah menjadi kerja yang teralienasi melalui kacamata dualisme yang kuat dalam aktivitas produktif, yang mencakup keterasingan manusia dari alam, diri mereka sendiri, spesies mereka, dan manusia lain. Maka keretakan metabolisme yang dijelaskan Marx sangat memainkan peran penting dalam mengartikulasikan dan menanggapi krisis konvergen yang disebutkan di awal tulisan sebagai  organik ke sistem modal.

Degradasi lingkungan memang sudah terjadi sepanjang sejarah manusia. Namun, terlepas dari berbagai kritik atas kerusakan lingkungan di Uni Soviet dan negara-negara sosialis lain yang pernah ada, kita dituntut untuk objektif menetapkan posisi marxisme dalam ekologi politik. Dalam tulisan ini saya tidak bermaksud menyandingkan atau bahkan mengklaim bahwa perjuangan ekologi bersanding dengan marxisme dalam melawan kapitalisme yang menindas dalam perspektif Marxian. Namun, perlu kiranya mengambil satu kesimpulan atas segala kegagalan gerakan ekologi dalam mengambil peran penting di akar rumput sehingga gerakan ekologi tidak hanya menjadi urban fashion yang keropos dan gaduh di permukaan.

Begitupun kelompok Marxis yang berjuang sepenuh hati melawan penindasan kapitalisme, tetapi terkadang luput dari perjuangan lingkungan hidup yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Tulisan ini merupakan kesimpulan dari seri diskusi pertama Kesatuan Perjuangan Rakyat Yogyakarta, melalui setengah tulisan ini saya berikan pengantar untuk pendiskusian selanjutnya. Semoga bahasan ekologi politik tidak berhenti disini dan kita semua dapat melanjutkan tulisan ini secara lebih mendalam.

Atma Tirtadipura

____________________________

Referensi

Sumber gambar: Canadiandimension.com

[1] Brian M. Napoletanoa. at all (2018) “Has (Even Marxist) Political Ecology Really Transcended The Metabolic Rift?”. UK. Geoforum Vol 92 (92-95)

[2] Fraser, N (2014) “Behind Marx’s Hidden Abode”. New Left Vol 86 (55–72)

[3] Adorno, T.W dan Horkheimer.M. (2002) “Dialectic of Enlightenment”, California, Stanford University Press.

[4] Foster, J.B ( 2000) “Marx’s Ecology”. New York, Monthly Review Press.

[5] Karl Marx (1964) “Economic and Philosophic Manuscripts of 1844”. New york: International Publishers (hal: 112)

[6] Saito, K. (2014) “The Emergence Of Marx’s Critique Of Modern Agriculture.” Monthly Review (25-46)

[7] Mészáros, I (2005) “Marx’s Theory of Alienation, fifth ed”. Merlin, London.