Lebih dari satu dekade terakhir, surat kabar dan jurnal bergengsi internasional kembali lagi membicarakan karya-karya Marx. Karyanya dipandang memiliki jangkauan jauh kedepan dengan topikalitasnya yang konstan dalam setiap zaman. Ide-ide dalam karya Marx masih diperlukan bagi siapapun yang percaya bahwa perlu membangun alternatif lain dari  kapitalisme. Tulisan Marx, dicetak ulang atau dibuat dalam edisi baru, diperjualbelikan kembali di toko buku konvensional maupun online. Bahkan menjadi hal yang lumrah ketika tulisan Marx berada dalam rak-rak buku Mahasiswa atau dibedah dalam perbincangan kecil kelompok mahasiswa di kedai-kedai kopi sederhana.

Di Eropa, karya Marx menemukan kembali popularitasnya terutama di tahun 2017-2018 pada momentum peringatan 150 tahun penerbitan Capital dan dua abad kelahiran Marx. Mereka menyebutnya sebagai “Tahun Kebangkitan Marx”.  Sebelumnya, setelah runtuhnya tembok Berlin, karya Marx banyak ditinggalkan. Dominasi para ilmuwan dogmatis kanan yang Eurosentrik membuat karya Marx terkubur dalam di tanah Eropa selama berpuluh-puluh tahun.

Capital dan Manifesto Komunis adalah karya Marx yang paling banyak dibaca dan dikutip. Selain itu adalah tulisan Marx muda (terutama Manuskrip Ekonomi dan Filsafat tahun 1844 dan Ideologi Jerman) yang banyak dipergunakan sebagai pisau analisis filsafat politik kelompok Marxis. Bahkan, puluhan manuskrip Marx yang tidak sempat diterbitkan, kerap mewarnai seminar di berbagai Universitas di dunia walaupun dengan eksegesis yang cenderung diperhalus.

Pemikiran Marx telah melintang sepanjang sejarah selama satu setengah abad. Bersama Engels, Marx telah membangun konsepsi radikal ekonomi politik alternatif kapitalisme. Pemikirannya tetap bersarang dan hidup dalam kepala jutaan kelas proletariat di dunia, membakar kemarahan demonstran dan menjadi stimulus teoritik dalam setiap pemberontakan kaum tertindas. Marxisme terus bergerak membuktikan kesimpulan dari seluruh teorinya tentang “keniscayaan masyarakat tanpa kelas”.